7 Fakta Skoliosis pada Anak yang Sering Tidak Disadari Orang Tua

dr. Romel Ciptoadi Wijaya

Kesehatan tulang belakang anak adalah fondasi bagi pertumbuhan mereka di masa depan. Namun, seringkali gangguan pada tulang belakang, khususnya skoliosis, luput dari perhatian hingga kondisinya berkembang lebih jauh. Banyak orang tua merasa terkejut ketika mengetahui buah hati mereka didiagnosis mengalami kelengkungan tulang belakang, padahal anak terlihat aktif dan sehat.

Memahami fakta skoliosis pada anak adalah langkah pertama yang krusial bagi setiap orang tua. Artikel ini akan mengupas secara mendalam mengapa kondisi ini sering tidak terdeteksi, gejala apa yang harus diwaspadai, dan langkah tepat yang bisa diambil bersama Synergy CST.

1. Gejala Awal Seringkali “Tidak Terlihat”

Salah satu alasan utama mengapa skoliosis sering tidak disadari adalah karena gejala yang muncul pada tahap awal (mild scoliosis) mungkin tidak terlalu jelas secara visual. Tidak seperti demam atau flu yang menunjukkan gejala instan, perubahan pada tulang belakang terjadi secara gradual.

Pada tahap awal, anak mungkin tidak mengeluhkan rasa sakit apapun. Mereka tetap bisa berlari, bermain, dan beraktivitas normal. Inilah yang membuat orang tua sering berasumsi bahwa postur tubuh anak baik-baik saja, padahal proses kelengkungan sedang terjadi.

2. Pakaian Dapat Menyamarkan Kelainan Postur

Tanpa disadari, pakaian yang dikenakan anak sehari-hari bisa menjadi “topeng” bagi kondisi skoliosis. Pakaian yang longgar (oversized), jaket tebal, atau seragam sekolah seringkali menutupi ketidaksimetrisan pada punggung atau bahu.

Fakta skoliosis pada anak menunjukkan bahwa indikator justru sering muncul dari pakaian itu sendiri, seperti:

  • Garis leher baju yang tampak miring terus-menerus.
  • Salah satu lengan baju terlihat lebih panjang dari yang lain.
  • Celana atau rok yang terlihat tidak pas atau miring di satu sisi pinggang.

3. Pertumbuhan Cepat (Growth Spurt) Adalah Fase Kritis

Banyak orang tua menganggap perubahan postur tubuh anak adalah bagian normal dari masa pertumbuhan yang cepat (growth spurt). Namun, dalam konteks skoliosis, pertumbuhan yang cepat ini justru menjadi pedang bermata dua.

Ketika anak memasuki fase growth spurt, tulang belakang mereka memanjang dengan cepat. Jika terdapat bibit skoliosis, derajat kelengkungan (Cobb angle) berpotensi membesar secara signifikan dalam waktu singkat. Skoliosis yang progresif seringkali terjadi justru di masa-masa pubertas ini, membuat pemantauan rutin menjadi sangat vital.

4. Tanda Fisik yang Spesifik Sering Diabaikan

Meskipun gejala awalnya samar, tubuh anak sebenarnya memberikan sinyal-sinyal fisik yang bisa diamati jika orang tua lebih teliti. Berikut adalah beberapa tanda yang perlu Anda waspadai:

  • Postur Tubuh Tidak Seimbang: Anak mungkin terlihat condong ke satu sisi saat berdiri tegak atau berjalan. Kepala mungkin terlihat tidak berada tepat di tengah bahu.
  • Punggung Tidak Rata (Rib Hump): Ini adalah salah satu tes paling efektif yang bisa dilakukan di rumah (Adam’s Forward Bend Test). Ketika anak membungkuk ke depan dengan kaki lurus, satu sisi punggung atau tulang rusuk mungkin terlihat lebih tinggi atau menonjol dibandingkan sisi lainnya.
  • Bahu Tidak Sejajar: Perhatikan ketinggian bahu kiri dan kanan. Jika satu bahu terlihat lebih tinggi secara konsisten, ini adalah tanda umum skoliosis.
  • Pinggul Tidak Simetris: Sama halnya dengan bahu, satu sisi pinggul mungkin terlihat lebih menonjol atau lebih tinggi daripada sisi lainnya.

5. Nyeri Punggung Bukan Indikator Utama di Awal

Banyak orang tua menunggu anak mengeluh sakit punggung baru memeriksakan diri ke dokter. Padahal, fakta skoliosis pada anak menunjukkan bahwa sebagian besar kasus skoliosis idiopatik pada remaja tidak menimbulkan rasa nyeri yang signifikan di tahap awal.

Namun, pada beberapa kasus di mana derajat kelengkungan sudah semakin membesar, anak mungkin mulai merasakan:

  • Kekakuan pada area punggung setelah aktivitas fisik.
  • Rasa pegal yang persisten di area punggung bawah atau antara tulang belikat.
  • Kelelahan otot punggung karena tubuh berusaha menyeimbangkan diri.

6. Kurangnya Pengetahuan Menghambat Deteksi Dini

Faktor edukasi memegang peranan besar. Banyak orang tua yang belum terpapar informasi memadai mengenai apa itu skoliosis dan bagaimana cara memeriksanya. Ketidaktahuan ini menyebabkan hilangnya “periode emas” untuk melakukan intervensi dini.

Skoliosis bukanlah akibat dari membawa tas berat atau kebiasaan duduk bungkuk semata (meskipun hal tersebut memperburuk postur), melainkan kelainan struktural tiga dimensi pada tulang belakang yang memerlukan penanganan profesional.

7. Pentingnya Peran Deteksi Dini dan Pemeriksaan Rutin

Deteksi dini adalah kunci utama dalam manajemen skoliosis. Semakin awal kondisi ini ditemukan, semakin banyak opsi terapi konservatif (non-operasi) yang dapat diterapkan untuk mengontrol kelengkungan.

Orang tua disarankan untuk:

  • Melakukan Skrining Mandiri: Secara berkala, minta anak berdiri tegak tanpa baju (untuk laki-laki) atau dengan pakaian ketat (untuk perempuan) dan perhatikan kesimetrisan tubuh mereka dari belakang.
  • Pemeriksaan Rutin Profesional: Membawa anak untuk pemeriksaan rutin oleh tenaga profesional, terutama saat mereka memasuki usia pra-remaja dan remaja (usia 10-15 tahun).

Pendekatan Terapi Konservatif di Synergy CST

Jika Anda menemukan tanda-tanda kecurigaan skoliosis pada anak, jangan panik, namun segera bertindak. Konsultasikan dengan tenaga profesional yang memiliki spesialisasi dalam penanganan skoliosis.

Di Synergy CST, kami menerapkan pendekatan menyeluruh untuk menangani skoliosis pada anak:

  • Pemeriksaan Fisik Mendalam: Tim kami akan melakukan evaluasi postur secara komprehensif. Jika diperlukan, kami akan merujuk untuk tes pencitraan tambahan seperti Sinar-X (Rontgen) guna mengukur derajat kelengkungan secara presisi.
  • Latihan Spesifik (Physiotherapy Exercises): Program latihan yang dirancang khusus (Schroth method atau metode spesifik lainnya) untuk menguatkan otot-otot penyeimbang tulang belakang dan memperbaiki pola napas.
  • Penggunaan Brace: Untuk kasus dengan derajat kemiringan tertentu yang masih dalam masa pertumbuhan, penggunaan brace sangat disarankan untuk menahan laju kelengkungan. Kami menyediakan solusi Terapi Brace Skoliosis yang berkualitas dan didesain untuk kenyamanan serta efektivitas maksimal bagi anak.
  • Pemantauan Rutin: Evaluasi berkala untuk memantau perkembangan tulang belakang anak seiring dengan pertumbuhan tingginya.

Kesimpulan

Skoliosis adalah masalah tulang belakang yang kompleks dan seringkali berkembang dalam senyap (silent progression). Sebagai orang tua, kewaspadaan Anda terhadap perubahan kecil pada tubuh anak adalah bentuk perlindungan terbaik.

Jangan menunggu hingga postur tubuh terlihat sangat miring atau anak mengeluh kesakitan. Deteksi dini yang dikombinasikan dengan terapi yang tepat di Synergy CST dapat membantu anak mengelola kondisi ini, memperbaiki postur, dan tetap menjalani kehidupan yang aktif serta percaya diri.

Ingin memastikan kesehatan tulang belakang anak Anda?

Segera jadwalkan konsultasi dan pemeriksaan postur tubuh anak Anda bersama tim profesional kami.

Hubungi Synergy CST:

WhatsApp/Telp: +6285179678989

Share this post:
Konsultasi Gratis
Konsultasi gratis sekarang