SEJARAH SINGKAT TERAPI SKOLIOSIS KONSERVATIF POPULER DI DUNIA

Sejak tahun 2004, Society on Scoliosis Orthopaedic and Rehabilitation Treatment (SOSORT) mendorong layanan terapi konservatif atau non-operasi sebagai pendekatan efektif untuk mengatasi skoliosis. Terapi Skoliosis Konservatif ini mencakup Latihan Spesifik Skoliosis dan penggunaan Brace Skoliosis. Menurut SOSORT, Latihan Spesifik Skoliosis yang efektif memiliki fitur standar sebagai berikut:

  1. Gerakan yang memicu koreksi diri dalam tiga dimensi.
  2. Latihan khusus yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Latihan yang bertujuan untuk menstabilkan postur tubuh skoliosis.
  4. Latihan khusus ini bertujuan untuk mengurangi dan menghambat perkembangan kelengkungan tulang belakang, mengurangi rasa sakit atau ketidaknyamanan, serta meningkatkan fungsi tubuh secara keseluruhan.

Sejarah LYON Approach

Dalam dunia terapi skoliosis non-bedah/operasi, salah satu metode yang telah diakui dan dikembangkan oleh SOSORT adalah LYON Approach. Pendekatan LYON ini memiliki sejarah panjang yang dimulai pada abad ke-19 ketika seorang ahli bedah tulang bernama Dr. Gabriel Pravaz menciptakan pusat fisioterapi ortopedi pertama di kota Lyon, Prancis. Pada saat itu, terapi skoliosis masih sangat terbatas, dan operasi seringkali menjadi satu-satunya pilihan yang tersedia.

Kemudian, pada pertengahan abad ke-20, Dr. Pierre Stagnara mengembangkan pendekatan non-bedah yang efektif untuk mengatasi skoliosis. Ia menggunakan gips dan brace sebagai metode untuk merawat pasien dengan skoliosis. Pada tahun 1947, ia menciptakan Brace Skoliosis Lyon, yang sekarang sudah dikembangkan sebagai Lyon-ART brace, salah satu jenis Brace Skoliosis yang memberikan efek koreksi skoliosis yang terbaik saat ini.

Sejarah Metode SCHROTH

Selain LYON Approach, Metode Schroth juga merupakan salah satu metode yang terbukti efektif dan terus dikembangkan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Metode ini dikembangkan oleh Katharina Schroth pada tahun 1920. Katharina Schroth sendiri adalah seorang penderita skoliosis derajat sedang yang pada waktu itu sedang menjalani terapi skoliosis dengan menggunakan brace yang terbuat dari “baja tebal”. Namun, karena kualitas hidupnya yang rendah, ia memutuskan untuk mengembangkan terapi skoliosis konservatif yang lebih fungsional.

Pada tahun 1910, Katharina Schroth mulai melatih dirinya sendiri dengan bernapas berlawanan dengan arah lengkungan skoliosisnya, sambil memantau gerakannya di depan cermin. Melalui proses pembelajaran yang berkelanjutan, ia menyadari bahwa koreksi postur skoliosis secara tiga dimensi hanya bisa dicapai melalui serangkaian latihan korektif yang mendukung postur tubuh yang benar dan “melawan” arah lengkungan. Prinsip-prinsip utama terapi skoliosis Schroth meliputi koreksi postur tiga dimensi, pernapasan korektif skoliosis, dan koreksi persepsi postur tubuh.

Metode Schroth, bersama dengan terapi konservatif lainnya, memberikan harapan baru bagi individu yang menderita skoliosis. Metode ini tidak hanya membantu mengurangi kelengkungan tulang belakang, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup mereka. Dengan pendekatan yang terus dikembangkan dan berlandaskan pada bukti ilmiah, terapi skoliosis konservatif semakin diterima dan diaplikasikan di seluruh dunia.

Terapi Skoliosis Konservatif di Synergy CST juga dikembangkan dengan prinsip-prinsip yang telah diakui oleh SOSORT Internasional itu sendiri. Anda dapat berkonsultasi dengan tim kami secara Gratis untuk mendapatkan informasi yang rinci terkait terapi Skoliosis Konservatif yang telah terbukti memberikan efek koreksi pada kondisi Skoliosis.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *