remaja tampak depresi di depan orang tua karena skoliosis

GANGGUAN KESEHATAN MENTAL PADA REMAJA DENGAN SKOLIOSIS

Adolescent Idiophatic Scoliosis (Skoliosis Idiopatik Remaja) adalah kelainan berupa kelengkungan menyamping tulang belakang yang biasa ditemui di usia 10-18 tahun. Kondisi ini dapat mempengaruhi postur tubuh, mengurangi mobilitas dan berpotensi menimbulkan rasa tidak nyaman di punggung bawah (low back pain), bahu atau bagian tubuh yang lain.

Penanganan khusus sangat dibutuhkan pada Skoliosis dengan derajat sedang atau berat. Skoliosis derajat sedang atau berat berpotensi besar untuk berprogres (penambahan derajat kelengkungan). Penanganan khusus dapat berupa penanganan medis berupa Operasi (invasif) dan/atau non-operasi (konservatif), seperti yang dilakukan oleh tim di SYNERGY CST Bandung. Pada kasus Skoliosis Ringan, sering kali klien hanya membutuhkan observasi berkala untuk mengamati perkembangannya, namun dalam kasus sedang hingga berat, sangat disarankan menjalankan terapi skoliosis secara medis.

image by freepik

Selain mempengaruhi kondisi fisik, skoliosis pada usia remaja juga dapat mempengaruhi kesehatan mental dan emosi. Banyak remaja yang mengalami skoliosis merasa cemas, stres dan bahkan depresi karena perubahan yang terjadi di tubuh mereka. Banyak yang merasa malu dan tidak percaya diri, karena lengkungan di tubuh atau tulang belakang terlihat jelas dan berbeda dengan teman-teman mereka. Hal ini dapat mempengaruhi interaksi sosial dan kemampuan remaja untuk menjalani kehidupan sehari-hari mereka dengan percaya diri.

Penting bagi orang tua dan praktisi kesehatan (Dokter dan terapis profesional) untuk memperhatikan kesehatan mental dan emosi pada remaja yang mengalami skoliosis. Salah satunya dengan mengajak mereka berdiskusi untuk mengatasi rasa malu dan cemas yang mereka alami. Ciptakan lingkungan dimana mereka merasa aman dan nyaman untuk membicarakan masalah mental dan emosi mereka dengan jujur dan terbuka.

Perlu diperhatikan bahwa terapi fisik dan penggunaan alat bantu seperti korset yang tepat, selain menjaga kestabilan kelengkungan supaya tidak bertambah, juga dapat meningkatkan percaya diri para remaja. Karena itu penting bagi para Orang Tua dan Praktisi (Dokter, Fisioterapis dan pembuat brace) untuk terus memberi dukungan dan motivasi kepada para remaja, agar mereka dapat terus mengatasi tantangan saat menjalankan terapi skoliosis yang dipilih.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk membantu remaja yang mengalami skoliosis dalam menjaga kesehatan mental mereka. Pertama, orang tua dan dokter dapat memberikan informasi yang akurat dan terperinci tentang kondisi skoliosis dan berbagai pilihan pengobatan yang tersedia. Hal ini dapat membantu remaja merasa lebih tenang dan yakin dalam menghadapi kondisi mereka.

Kedua, dukungan keluarga dan teman juga dapat membantu remaja yang mengalami skoliosis dalam mengatasi perasaan malu atau tidak percaya diri. Orang tua dan keluarga dapat membantu menciptakan lingkungan yang positif dan mendukung bagi remaja, sementara teman sebaya dapat membantu meningkatkan rasa percaya diri dengan cara menunjukkan bahwa mereka tetap diterima dan dihargai meskipun mengalami skoliosis.

Ketiga, terapi psikologis atau konseling juga dapat membantu remaja yang mengalami skoliosis dalam mengatasi masalah kesehatan mental mereka. Terapi ini dapat membantu remaja merasa lebih baik tentang diri mereka sendiri, mengatasi kecemasan atau depresi yang terkait dengan kondisi skoliosis, serta meningkatkan kemampuan mereka dalam mengatasi perubahan pada tubuh mereka.

Penting untuk diingat bahwa skoliosis pada remaja bukanlah akhir dari dunia. Meskipun dapat memengaruhi kesehatan fisik dan mental, pengaruh skoliosis dapat diatasi melalui berbagai cara yang tersedia. Orang tua dan Praktisi perlu untuk terus memberikan dukungan dan motivasi pada remaja agar merasa percaya diri dalam menghadapi kondisi ini.

Dalam beberapa kasus, remaja yang mengalami skoliosis mungkin membutuhkan dukungan kesehatan mental yang lebih intensif. Jika Anda atau anak Anda mengalami masalah kesehatan mental yang serius, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter atau profesional kesehatan mental untuk mendapatkan bantuan dan perawatan yang tepat.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *